TEACHER'S SIDE FUN AND JOY

Senin, 09 Maret 2009

AUSTRALIA’S CORNER

AM I DREAMING?
Chosen as one of those sent to Exchange Teacher Program to Australia in 2005 was a very great moment for me. Before I tell you about my experience, let me tell you first about this kind of program. This program was aimed at cementing the sister city relationship between Queensland and Central Java. The first teacher sent was Pak Agustinus from SMA 3 Salatiga, and today he is teaching at Park Ridge SHS in Brisbane, Australia. Following Pak Agustinus’ step was Pak Sumadi who went there in 1998. Now Pak Madi is teaching at Gladstone, a town at a coastal region about 200 kilometers from Brisbane. Both pak Agus and pak Sumadi teach LOTE (Language Other Than English) Bahasa. You feel surprised, do you? I will let you know later about this.
I went to Aussie (Australia for short) together with Pak Maman Supriyanto from Sukoharjo, who once has stayed in Japan for 4 years, Pak Saidan from Patikraja, Banyumas, who was chosen as the headmaster of Indonesian School in Denhaag, Holland from 2006 until 2008, and Pak Mohammad Aji from Rembang.
We did not go to one school; on the contrary, we went to different places in quite a distance. Pak Aji had to go to Cairns, Pak Saidan went to Bribie Island, Pak Maman went to Toogooloowa first, then moved to Brisbane, and I went to Toowoomba.
Long time ago questions came into my mind,” how can many people from my country go abroad?” from that time I started knitting many dreams in my mind. Is it a dream? It was, but now my dream comes true.



LOTE
What is LOTE? LOTE stands for Language Other Than English. LOTE is one subject taught at school. LOTE means languages Australian people want to learn based on their need. LOTE includes Bahasa Indonesia, Chinese, Japanese, Italian, French, etc. Australian learns Bahasa Indonesia, Bahasa for short, because they assume us as their neighboring country.
Long time ago, before first Bali blast Bahasa became very popular so that many schools and students were very keen on learning Bahasa. It became first rank among other LOTE-s. Learning Bahasa means to practice the target language. Visiting Indonesia and communicating with local people is one way to learn Bahasa. Besides, going to Indonesia is cheap; they can do shopping as well. It is fun. They can buy anything with reasonable price, they can bargain. Schools teach students how to bargain. Margaret who once went to Bali told me that she spent only15 AUD for a wristwatch. It is really an offer; it is in good quality. She is happy to have that fantastic watch.
Elementary up to high school students learn LOTE. While students are in year X, they may choose subjects they like. Sometimes students want to take LOTE, but when they feel it hard then they leave it.
Many Indonesian teachers work there as LOTE teachers. Let alone today some schools in Brisbane has immersion program, they use Bahasa as a means of communication in teaching some subjects at schools.
There is Bahasa speech contest among high school students. University holds that program. One I attended is at Griffith University in Brisbane in 2005. The winner I knew was Tom who then went to Indonesia in 2006. He insisted on going to Indonesia despite a travel ban by his country.

Senin, 02 Maret 2009

AUSTRALIA’S CORNER

AM I DREAMING?
Chosen as one of those sent to Exchange Teacher Program to Australia in 2005 was a very great moment for me. Before I tell you about my experience, let me tell you first about this kind of program. This program was aimed at cementing the sister city relationship between Queensland and Central Java. The first teacher sent was Pak Agustinus from SMA 3 Salatiga, and today he is teaching at Park Ridge SHS in Brisbane, Australia. Following Pak Agustinus’ step was Pak Sumadi who went there in 1998. Now Pak Madi is teaching at Gladstone, a town at a coastal region about 200 kilometers from Brisbane. Both pak Agus and pak Sumadi teach LOTE (Language Other Than English) Bahasa. You feel surprised, do you? I will let you know later about this.
I went to Aussie (Australia for short) together with Pak Maman Supriyanto from Sukoharjo, who once has stayed in Japan for 4 years, Pak Saidan from Patikraja, Banyumas, who was chosen as the headmaster of Indonesian School in Denhaag, Holland from 2006 until 2008, and Pak Mohammad Aji from Rembang.
We did not go to one school; on the contrary, we went to different places in quite a distance. Pak Aji had to go to Cairns, Pak Saidan went to Barbie Island, Pak Maman went to Toogooloowa fisrt, then moved to Brisbane, and I went to Toowoomba.
Long time ago questions came into my mind,” how can many people from my country go abroad?” from that time I started knitting many dreams in my mind. Is it a dream? It was, but now my dream comes true.

Senin, 23 Februari 2009

VARIASI METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA

Bahwa pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah menengah sering menghadapi berbagai kendala adalah sebuah keniscayaan. Bagi guru, kesulitan biasanya timbul dalam upaya memilih metode yang tepat sesuai dengan kondisi yang ada. Kondisi ini bisa mencakup latar belakang kemampuan IQ, keadaan orang tua siswa, jarak sekolah dengan rumah siswa, maupun motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran di sekolah.
Latar belakang kemampuan IQ akan berpengaruh pada cepat lambatnya siswa dalam menyerap informasi yang disampaikan oleh guru. Keadaan ekonomi orang tua akan berpengaruh pada ketersediaan fasilitas yang mendukung proses belajar siswa. Jarak sekolah yang jauh dari rumah tinggal siswa akan berpengaruh pada kelelahan fisik yang mengakibatkan capek dan mengantuk dalam mengikuti proses belajar mengajar, sedangkan motivasiakan berdampak pada ada tidaknya minat dan keinginan siswa untuk mengikuti dan memahami mata pelajaran bahasa Inggris.
Bagi siswa, kesulitan sering dialami karena sebagian besar sudah memiliki anggapan bahwa pelajaran bahasa Inggris itu sulit, tidak menarik dan membosankan. Kondisi ini diperparah dengan munculnya rasa takut dari siswa baik itu ketakutan untuk mempelajari bahasa Inggris maupun ketakutan pada guru yang mengampu mata pelajaran tersebut.
Kondisi tersebut di atas juga diakibatkan adanya anggapan yang berkembang di lingkungan siswa bahwa pabila mereka lulus sekolah, maka tidak lain mereka akan bekerja di pabrik-pabrik di seputar tempat tinggal mereka, sehingga bagi mereka kemampuan akademik bukanlah hal yang utama. Yang mereka perlukan hanyalah secarik kertas surat tanda kelulusan dari sekolah untuk melamar pekerjaan. Namun perlu diingat semakin tahun nilai standar kelulusan semakin meningkat, dengan nilai minimal setiap mata pelajaran adalah 4,25. Dari sinilah perlunya dibangkitkan motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran bahasa Inggris melalui berbagai pendekatan metode pembelajaran yang bisa mencakup empat ketrampilan berbahasa; listening, speaking, reading dan writing.
Guru sebagai fasilitator di dalam kelas seyogyanya dapat memvariasikan berbagai macam teknik sehingga siswa dapat menciptakan pengetahuan secara aktif tidak hanya menerima berbagai macam pengetahuan secara pasif.
Siswa antara satu dengan yang lain adalah unik karena masing-masing memiliki perbedaan, namun ada satu hal yang secara seragam dimiliki oleh mereka yaitu adanya kegembiraan dan keriangan. Maka dari itu guru sebisa mungkin dapat menciptakan suasana maupun lingkungan yang dapat mencerminkan rasa senang dan kegembiraan, yaitu bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri siswa ( Meier : 2002).
Pembelajaran adalah perubahan. Jika tidak ada waktu untuk berubah berarti tidak ada pembelajaran yang sejati. Pembelajaran ditandai dengan adanya keterlibatanpenuh siswa, adanya kerjasama, variasi dan keragaman dalam metode pembelajaran. Meier ( 2002:263) lebih lanjut menyebutkan bahwa pemebaljaran akan memberi hasil yang terbaik jika bersifat somatic, auditory, visual dan intelektual.
Somatic berarti adanya gerakan fisik selama proses pembelajaran. Auditory adalah mendengar dan mengucapkan kata-kata. Visual berarti belajar melalui peglihatan, menciptakan dan mengintegrasikan berbagai macam image (gambaran). Intelektual adalah melibatkan pikiran untuk menciptakan pembelajaran itu sendiri. Dr. Vernon A. Magnessen seperti dikutip Bobby de Porter (1983) menyebutkan bahwa ;” Kita Belajar :
10 % dari apa yang kit abaca
20 % dari apa yang kita dengar
30 % dari apa yang kita lihat
50 % dari apa yang kita lihat dan dengar
70 % dari apa yang kita katakan
90 % dari apa yang kita katakan dan lakukan”
ALTERNATIF VARIASI METODE PEMBELAJARAN
1. GROUPING
Selalu atur siswa untuk mengerjakan tugas dalam kelompok. Biarkan siswa memilih sendiri kelompoknya dan selalu ingatkan bahwa masing-masing siswa dalam kelompok mempunyai hak yang sama dalam berbicara dan memecahkan sesuatu masalah sehingga tidak ada satu anggota yang mendominasi anggota lainnya atau sebaliknya anggota menyerahkan pemecahan masalah pada satu atau dua anggota dalam kelompok.
2. SLOGAN
Kelompok yang terdiri atas 4 atau 5 siswa diberi tugas untuk membuat slogan yang berhubungan dengan pelajaran bahasa Inggris. Slogan yang sudah dikoreksi guru selannjutnya ditulis pada kertas asturo dan ditempel di dinding.
Berikut ini contoh-contoh slogan yang berhasil dibuat oleh para siswa :
a. DICTIONARY IS A FAITHFUL FRIEND TO STUDY ENGLISH
b. LIFE WITHOUT ENGLISH LIKE DANGDUT WITHOUT BODY SHAKING
c. ENGLISH IS EASY IF YOU ARE NOT LAZY TO TRY
d. DON’T BE HOPELESS BEFORE YOU TRY STUDYING ENGLISH
e. WITHOUT DICTIONARY ENGLISH IS NONSENSE
f. COMPLETE OURSELVES WITH ENGLISH TO FACE THE COMPETITIION IN GLOBALISATION ERA
g. START STUDYING ENGLISH FROM NOW ON BECAUSE IT’S VERY AMUSING
h. WITH ENGLISH WE CAN EASILY GET A JOB

BEBERAPA ALTERNASI TEAM TEACHING

Bila beban jam mengajar guru tersertifikasi sejumlah 24 jam betul-betul secara kaku dilaksanakan pasti akan terjadi benturan di lapangan. Hal ini disebabkan jumlah tatap muka antara satu mata pelajaran per minggu dengan mata pelajaran yang lain berbeda. Misalnya; mata pelajaran bahasa Inggris di SMA berlaku 4 jam pelajaran. Bila di satu sekolah dengan rombel sejumlah 21 kelas dengan guru bahasa Inggris sejumlah 3 orang, maka masing-masing guru akan mendapat jatah sejumlah 28. Ini berarti masing-masing guru tersebut telah memenuhi jumlah jam yang ditetapkan. Bagaimana halnya dengan guru Sejarah atau Geografi yang hanya memiliki 2 jam pelajaran ? Katakanlah untuk sementara para guru yang sudah lulus sertifikasi mengambil jam milik guru lain yang belum sertifikasi, lalu bagaimana guru tersebut dapat naik pangkat kalau jam mengajarnya pun jauh di bawah 18 jam yang ditentukan untuk penghitungan angka kredit.
Bila alternasi team teaching ini dilaksanakan dan digunakan untuk menghitung jumlah jam mengajar barangkali para guru bisa bernafas lega. Mungkin banyak pihak yang masih berkeberatan dengan kegiatan team teaching. Alih-alih team teaching tetapi hanya gantian mengajar. Misalnya hari ini guru A yang mengajar maka pertemuan minggu depan kelas akan diajar oleh guru B. Kegiatan tersebut bukan termasuk satu di antara alternasi team teaching. Di bawah ini disajikan beberapa alternasi team teaching atau mengajar bersama yang disarikan dari (http://coe.jmu.edu/esc/Consortium_Co-teaching.)
1. One teach, one support
Alternasi ini mensyaratkan satu guru mengajar, sementara guru lain bergerak ke sekeliling ruangan kelas untuk memantau kegiatan siswa dan membantu kesulitan siswa secara individu.
2. Parralel Teaching
Dua orang guru merencanakan bersama namun untuk mengajarnya, kelas dibagi dua kelompok. Masing-masing guru mengajar pokok bahasan yang sama.
3. Alternative Teaching
Dalam alternative teaching, seorang guru mengajar sementara guru lain bekerja dengan sekelompok siswa di dalam atau di luar kelas. Sekelompok siswa ini tidak mengikuti pelajaran namun bisa saja bekerja bersama guru tadi untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai, atau bahkan melakukan kegiatan pengayaan bagi para siswa yang masuk dalam kategori top level.
4. Station Teaching
Dua guru membagi isi pembelajaran, masing-masing guru bertanggung jawab dalam perencanaan dan pelaksanaan. Kelas dibagi menjadi berbagai macam induk (stasiun) pembelajaran. Misalnya, ada tiga stasiun pelajaran Biologi, masing-masing melakukan percobaan yang berbeda, dapat diatur oleh guru mana yang mmembutuhkan perhatian dan pengawasan lebih maka di situ guru berada.
5. Team Teaching
Kedua guru bertanggung jawab terhadap perencanaan, keduanya berbagi instruksi kepada semua siswa. Materi pelajaran diajarkan oleh kedua guru yang secara aktif terlibat dalam percakapan, bukan ceramah untuk mendorong terjadinya diskusi pada diri siswa. Kedua guru aktif mengelola pembelajaran dan kedisiplinan siswa.
Akhirnya semoga pemahaman tentang team teaching atau co teaching ini dapat digunakan sebagai langkah untuk mengambil kebijakan dalam menentukan jumlah jam mengajar 24 jam yang harus dipenuhi setelah guru dinyatakan lulus sertifikasi guna memperoleh hak penerimaan tunjangan sebesar satu bulan gaji. Semoga.

Selasa, 17 Februari 2009

Guru Tersertifikasi dan Jam Mengajar

Dengan disahkannya UU no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen melahirkan angin segar di kalangan pendidik, meskipun ada yang menanggapinya dengan sinis. Pemerintah dianggap tidak mampu menyediakan dana Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) bagi 2,2 juta guru di seluruh pelosok nusantara.
Sejalan dengan diluncurkannya Permendiknas no 18 tahun 2007 yang mensyaratkan penilaian portofolio sebagai uji sertifikasi, memungkinkan sebagian besar guru dinyatakan lolos dan memperoleh sebutan guru profesional sehingga mereka pun berhak menerima TPP sebesar satu bulan gaji. Sedangkan bagi guru yang tidak lolos uji portofolio diwajibkan mengikuti PLPG yang diakhiri dengan ujian dan setelah dinyatakan lulus baginya diberikan hak yang sama dengan mereka yang telah lolos.
Apakah pemberian tunjangan tersebut berjalan mulus seperti yang diharapkan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan guru pada umumnya? Atau ini hanya sekadar pemuas sesaat?
Di awal tahun 2007 para guru yang lolos sertifikasi pada tahun 2006 sudah menerima tunjangan tersebut, begitu pula dengan lulusan tahun 2007, mereka sudah menerima tunjangan selama 9 bulan. Guru-guru lulusan tahun 2008 dalam waktu dekat dikabarkan juga bakal menerima tunjangan tersebut.
Di sini terbukti bahwa pemerintah tidak sekadar obral janji. Sehingga para guru yang belum sertifikasi boleh berharap mendapat hak yang sama setelah lolos uji portofolio ketika kesempatannya tiba. Namun belakangan justru timbul masalah tentang beban mengajar guru yang harus mencapai 24 jam per minggunya sebagai salah satu syarat pencairan dana tunjangan itu. Lima belas mata pelajaran dengan 43 jam tatap muka per minggunya, tampaknya sulit membagi jam mengajar ideal masing-masing guru sejumlah 24 jam mengingat perbedaan jumlah jam tatap muka tiap-tiap mata pelajaran dan jumlah rombongan belajar di masing-masing sekolah.
Haruskah guru terpaksa gigit jari dan gagal menerima tunjangan karena terganjal kurangnya jumlah jam mengajar? Untuk itu diperlukan kearifan pemerintah pusat dalam rangka mengkaji ulang peraturan mengenai beban mengajar tersebut. Barangkali lontaran ide dari kalangan pendidik tentang team teaching, tugas tambahan seperti wali kelas, wakil kepala sekolah, kepala laboratorium, pembina kegiatan ekstra kurikuler, guru piket, dan lain-lain tugas tambahan bisa diperhitungkan sehingga dapat memenuhi beban mengajar yang disyaratkan.
Jika ide ini sesegera mungkin dibakukan dan menjadi peraturan yang mengikat dan diberlakukan di seluruh Indonesia, niscaya tidak akan terjadi benturan antara dinas pendidikan yang berpedoman pada jumlah jam mengajar murni sejumlah 24 jam di luar tugas tambahan dengan pihak sekolah yang memasukkan tugas tambahan dengan perhitungan jumlah jam. Bila semua pihak yang terkait berpijak pada peraturan yang sama tentunya harapan kita para guru tidak lagi berada dalam kecemasan dan kekhawatiran sehingga impian menjadi insan yang sejahtera segera terwujud sejalan dengan jabatan profesional guru yang disandangnya
.

Senin, 16 Februari 2009

SERTIFIKASI GURU LEWAT PLPG


Rame-rame tentang sertifikasi mengundang banyak pro dan kontra. Mengapa demikian, karena di salah satu sisi sertifikasi mensyaratkan uji portofolio bagi para guru. Anehnya lagi para guru yang terpanggil mengikuti sertifikasi uji portofolio tidak hanya para guru yang sudah memiliki masa kerja lama namun juga para guru yang baru mengajar dua tahunan. Wow tentu saja yang memiliki masa kerja baru akan memiliki nilai portofolio yang jauh di bawah para guru yang sudah mengajar puluhan tahun. Mereka yang jauh di bawah angka 850 untuk lulus uji portofolio akan diwajibkan untuk mengikuti PLPG. Menurut saya sebagian besar guru-guru yang mengikuti sertifikasi lewat jalur portofolio lebih baik dibandingkan mereka yang sekedar lulus uji portofolio. Jangan sewot dulu! Mengapa demikian? PLPG yang dilaksanakan di rayon 12 UNNES berlangsung selama 9 hari dari pagi hingga pagi lagi. He he he. Baik sebelum saya bercerita tentang durasi acara yang lama saya akan bercerita dulu dengan siapa kita akan berhadap-hadapan selama PLPG berlangsung. Para pengampu mata latih selama PLPG adalah para dosen yang notabene expert di bidangnya. Materi mata latih yang disajikan pun oke habis. Di sini para guru diajari teori pembelajaran bahasa Inggris, teori tentang bagaimana mengajar bahasa Inggris biar menyenangkan. Ssst ternyata sebagai guru bahasa Inggris kita harus mengajar menggunakan bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.

Senin, 09 Februari 2009

MGMP BAHASA INGGRIS SERU !

MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Semarang berlangsung pada tanggal 10 Februari 2009 bertempat di SMA Negeri 1 Ambarawa. Kegiatan ini diikuti oleh para guru bahasa Inggris yang terdaftar dalam proyek Block Grant Revitalisasi MGMP Bahasa Inggris. Kegiatan ini berisi pelatihan pembuatan blog di bawah asuhan ahli komputer dan blogg dari SMA Negeri 1 Bergas.
Ternyata semua guru keasyikan dengan kegiatan ini, maklum ini adalah hal baru bagi kami, apalagi dengan bikin blog ini kita bisa dapat uang banyak ! Kegiatan ini pada kesempatan lain harus dipindah karena kurang berhasil konek ke internet. Selanjutnya kegiatan ini dipindahkan ke SMA Negeri 1 Bergas yang peralatan komputer maupun akses internet boleh dibilang ebih mudah. Jadilah sekarang masing-masing blog dari guru-guru bahasa Inggris yang ada di kabupaten Semarang. Terimakasih LPMP atas kegiatan revitalisasi MGMP yang bisa menyentuh hingga ke akar rumput para guru yang ada nun jauh di pelosok daerah. sekali lagi Bravo LPMP.